Sabtu, 16 Oktober 2010

Salah Satu Sudut Kota Madinah, 627 Masehi

enta, buta, pengemis, dan dia seorang Yahudi. Lelaki tua itu mendudukkan badan ringkihnya seperti kain usang yang teronggok. Kepala bergerak-gerak, telinga menjadi matanya. Seperti kemarin, jarang yang menghampirinya dan melemparkan sejumlah receh untuknya menyambung hidup. Dia menunggu seseorang yang setiap pagi menjadi yang pertama mendatanginya. Pengemis tua itu yakin, pagi ini pun tidak akan ada yang berubah.

Dia datang. Dia datang. Pengemis itu mengenali langkah seseorang yang sering mendatanginya setiap pagi. Dia bersiap untuk mengulangi mantra yang dia rapal setiap hari, setiap kali ada yang menghampirinya dan memberi keping receh untuk menyambung napasnya.

"Janganlah engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan di pengaruhinya."

Dimulai. Ini pengulangan setiap hari. Rutinitas yang tidak pernah terganti. Seseorang itu akan menyuapkan makanan lunak kepada pengemis renta dengam mulutnya sendiri. Perlahan dan penuh kelembutan. Seperti induk burung yang menyuapi anaknya melalui paruhnya. Makanan selembut apa pun akan sulit dikunyah oleh pengemis renta itu. Apa yang dilakukan seseorang yang senantiasa mengunjunginnya setiap pagi sama saja dengan surga.

Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya mengangakan mulutnya. Orang itu mengunyahkan makanan untuk dia dengan mulutnya sendiri. Perlahan-lahan, Sampai tandas seluruh makanan yang ia bawa.

"Janganlah engkau mendekati Muhammad". Si tua mengulang kalimatnya. Seolah, dia mendapat layanan ekstra dari orang tak di kenalnya itu karena kalimat-kalimat yang ia ucapkan, " Jangan... Karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya engkau akan dipengaruhinya."

Orang itu tersenyum. Tidak bersuara. Dia bangkit perlahan setelah memastikan si tua selesai dengan makanannya. Lelaki itu bangkit lalu menderap meninggalkan si pengemis. Langkahnya tegap dan terukur. Ritmis dan berpendar wibawa. Lelaki itu... dirimu, Wahai Muhammad lelaki yang lembut hatinya..

- Sebuah Novel Biografi Muhammad SAW, Lelaki Penggenggam Hujan -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar